Minggu, 16 Januari 2011

METODE PENILAIAN PERSEDIAAN (MANAJEMEN OPERASI)


   a)         Metode  Pengendalian Persediaan
Metode ini menggunakan matematika dan statistik sebagai alat bantu utama dalam memecahkan masalah kuantitatif dalam sistem persediaan. Pada dasarnya, metode ini berusaha mencari jawaban optimal dalam menetukan :
·         jumlah ukuran pemesanan ekonomis (EOQ)
·         titik pemesanan kembali (Reorder point)
·         jumlah cadangan pengaman (safety stock) yang diperlukan
Metode ini sering juga disebut metode pengendalian tradisional karena memberi dasar lahirnya metode baru yang lebih modern.
Metode pengendalian persediaan secara statistic ini biasanya digunakan untuk mengendalikan barang yang permintaanya bersifat bebas (dependent) dan dikelola saling tidak bergantungan. Yang dimaksud permintaan bebas adalah permintaan yang hanya dipengaruhi mekanisme pasar sehingga bebas dari fungsi operasi produksi. Sebagai contoh adalah permintaan untuk barang jadi dan suku cadang pengganti (spare part).
Ditinjau dari sejarah perkembangannya, metode ini secara formal diperkenalkan oleh Wilson pada tahun 1929 dengan mencoba mencari jawaban dasar, yaitu :
·         Berapa jumlah barang yang harus dipesan untuk setiap kali pemesanan?
·         Kapan saat pemesanaan harus dilakukan?
Pengembangan formula Wilson kemudian dikembangkan pada keadaan yang lebih realistic, terutama untuk fenomena yang bersifat probabilistic. Hal ini kemudian memunculkan 2 metode dasar pengendalian persediaan yang bersifat probabilistic, yaitu :
·         Metode P, yang menganut aturan bahwa saat pemesanan bersifat regular mengikuti suatu periode yang tetap (mingguan, bulanan), sedangkan kuantitas pemesanan akan berulang-ulang.
·         Metode Q, yang menganut aturan bahwa jumlah ukuran pemesanan (kuantitas pemesanan) selalu tetap untuk setiap kali pesan, sehingga saat pemesanan dilakukan akan bervariasi.


   b)         Model Statis EOQ
Model persediaan yang paling sederhana ini memakai asumsi-asumsi sebagai berikut :
ü  Hanya satu item barang (produk) yang diperhitungkan.
ü  Kebutuhan (permintaan) setiap periode diketahui (tertentu).
ü  Barang yang sudah dipesan diasumsikan dapat segera tersedia (instaneously) atau tingkat produksi (production rate) barang yang dipesan berlimpah (tak terhingga).
ü  Waktu ancang-ancang (lead time) bersifat konstan.
ü  Setiap pesanan diterima dalam sekali pengiriman dan langsung dapat digunakan.
ü  Tidak ada pesanan ulang (back order) karena kehabisan persediaan (shortage).
ü  Tidak ada diskon untuk jumlah pembelian yang banyak (quantity discount).

Dari asumsi-asumsi diatas, model ini mungkin diaplikasikan baik pada sistem manufaktur seperti penentuan persediaan bahan baku dan pada sistem non manufaktur seperti pada penentuan jumlah bola lampu pada suatu bangunan; penggunaan perlengkapan habis pakai (office supplies) seperti pensil, kertas, dan buku nota; konsumsi bahan-bahan makanan seperti beras, jagung, dan lain-lain.
Tujuan model ini adalah untuk menentukan jumlah ekonomis setiap kali pemesanan (EOQ) sehingga meminimasi biaya total persediaan dimana :

Biaya Total Persediaan  = Ordering cost + Holding cost + Purchasing cost

Parameter-parameter yang dipakai dalam model ini adalah :
D = jumlah kebutuhan barang selama satu periode (misalnya : 1 tahun)
k = ordering cost setiap kali pesan
h = holding cost per-satuan nilai persediaan per-satuan waktu
c = purchasing cost per-satuan nilai persediaan
t = waktu antara satu pemesanan ke pemesanan berikutnya

Tujuan secara matematis model ini kita mulai dengan komponen biaya ordering cost yang tergantung pada jumlah (frekuensi) pemesanan dalam 1 periode, dimana frekuensi pemesanan tergantung pada :
ü  Jumlah kebutuhan barang selama 1 periode (D)
ü  Jumlah setiap kali pemesanan (Q)
Dari keterangan diatas, kita bisa tuliskan bahwa frekuensi pemesanan = D/Q
Ordering cost setiap periode diperoleh dengan mengalikan D/Q dengan biaya setiap kali pesan (k), sehingga :
Ordering cost per-periode = (D/Q)k
Komponen biaya kedua, yaitu holding cost dipengaruhi oleh jumlah barang yang disimpan dan lamanya barang disimpan. Setiap hari jumlah barang yang dismpan akan berkurang karena dipakai / terjual, sehingga lama penyimpanan antara satu unit barang yang lain juga berbeda. Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan adalah tingkat persediaan rata-rata. Karena bergerak dari Q unit ke nol unit dengan tingkat pengurangan konstan (gradient-D) selama waktu t, maka persediaan rata-rata untuk setiap siklus adalah : (Q+0)/2 = Q/2 sehingga :
Holding cost per-periode = h(Q/2)
Komponen biaya ketiga, yaitu purchasing cost merupakan antara kebutuhan barang selama periode (D) dengan harga barang per-unit (C) sehingga :
Purchasing cost per-periode = Dc
Dengan menggabungkan ketiga komponen biaya persediaan diatas, maka :
Biaya Total Persediaan (TC) = (D/Q)k + h(Q/2) + Dc
Tujuan model EOQ ini adalah nilai Q sehingga meminimumkan biaya total persediaan. Tetapi yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan nilai Q adalah biaya-biaya relevan saja (Biaya Incremental).
Komponen biaya ketiga, yaitu purchasing cost dapat diabaikan karena biaya tersebut akan timbul tanpa tergantung pada frekuensi pemesanan, sehingga tujuan model EOQ ini adalah meminimasi biaya atotal persediaan dengan komponen biaya ordering cost dan holding cost saja, atau :
Biaya persediaan :
Incremental (ITC) = (D/Q)k + h(Q/2)
Jumlah pemesanan yang optimal (EOQ) secara matematis dihitung dengan mendeferensialkan persamaan terhadap Q, dan persamaan diferensial itu diberi harga nol, sehingga :
(TIC) = (D/Q)k + h(Q/2)
dITC = - D/Q2k+h/2 = 0
D/Q2k = h/2
Q2 = 2Dk/h
maka :
Q01 = √2Dk/h
Bila (Q optimal =  EOQ) telah diperoleh, maka t optimal diperoleh sebagai berikut :
t0 = Q0/D
Besarnya TC dapat diperoleh dengan memasukkan harga Q0 pada perssamaan diatas sehingga diperoleh persamaan :
TIC = √2Dkh
(gambar kurva TC minimum)
Biaya Total Relevan (TC) merupakan penjumlahan 2 komponen biaya ordering cost dan holding cost, sehingga jarak kurva TC pada setiap titik Q merupakan hasil penjumlahan jarak kedua kurva komponen biaya tersebut secara tegak lurus.
Ordering cost mempunyai bentuk geometris hiperbola dimana makin kecil Q, berarti makin sering pemesanan dilakukan dan makin besar biaya pemesanan yang dikeluarkan. Sebaliknya bila Q makin besar, berarti makin jarang pemesanan dilakukan dan makin kecil biaya pemesanan yang dikeluarkan.
Holding cost mempunyai bentuk garis lurus karena komponen biaya ini tergantung pada tingkat persediaan rata-rata. Garis ini dimulai dari titik Q = 0, dimana tingkat pesediaan rata-rata semakin membesar secara proporsional dengan gradient yang sama.

   c)         Pengaman (Safety stock)
Karena pemesanan dilakukan berulang-ulang, perlu dipertimbangkan pesediaan pengaman (safety stock) dan kapan memesan kembali (Re-Order Point atau ROP). Berapa besar safety stock ini tergantung pada kebijakan perusahaan dan pengalaman di masa yang lalu. Kebanyakan perusahaan menentukan safety stock sejumlah 1 (satu) bulan pemakaian normal dan juga yang lebih sedikit.

   d)         Just in Time (JIT)
Adalah filosofi manajemen dari pemecahan masalah yang berkelanjutan dan dipaksakan, sehingga pemasok-pemasok dan komponen-komponen ditarik melalui sistem untuk menunjukkan dimana dan kapan mereka dibutuhkan.
JIT memusuhi pemborosan yang tidak memberi nilai tambah produk. JIT juga membeberkan permasalahan dan kemacetan yang disebabkan oleh keragaman (variabilitas). Keragaman ini terjadi karena adanya deviasi dari nilai optimum. JIT juga akan mampu mencapai produksi ramping dengan mengurangi persediaan.
Ada beberapa pemborosan yang dapat terjadi dalam proses produksi yang terdiri dari : kelebihan produksi, menunggu transportasi, proses yang tidak efisien, persediaan, gerakan yang tidak perlu dan produk cacat.
Pengurangan pemborosan karena JIT
No.
Aspek
Pengurangan Pemborosan ( % )
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Waktu Pemasangan ( set-up time )
Sisa (sampah) produksi
Persediaan barang jadi
Ruang
Waktu Tunggu (Lead Time)
Persediaan barang mentah
persediaan barang dalam proses
20
30
30
40
50
50
82

Kontribusi JIT untuk keunggulan bersaing
            Paling tidak terdapat 7 kontribusi JIT untuk memperoleh keunggulan bersaing, yaitu: pemasok, tata letak, persediaan, penjadwalan, pemeliharaan pencegahan, mutu produksi dan pemberdayaan karyawan.

  1. JIT pada pemasok
Dengan semangat JIT, jumlah pemasok sebaiknya sedikit, ada hubungan kedekatan dan pemasok yang senantiasa berbisnis ulang dengan kita. Perlu dilakukan analisis untuk memilih pemasok yang mampu bersaing dengan harga yang bersaing. Penawaran yang bersaing sebagian besar dibatasi kepada pembeli baru. Pembeli mempertahankan integrasi verttikal dari bisnis pemasok. Para pemasok seringkali mendorong untuk menerapkan JIT kepada pemasok-pemasok mereka.

  1. JIT pada Tata Letak
Tujuan JIT adalah mengurangi perpindahan orang maupun perpindahan barang. Hal ini disebabkan bahwa perpindahan merupakan pemborosan. Oleh karena itu, JIT menghendaki sel-sel kerja untuk produk-produk yang sejenis. JIT juga menghendaki mesin-mesin yang dapat dipindahkan dan dapat diubah-ubah, jarak yang dekat, ruang yang sedikit untuk persediaan, dan pengiriman langsung ke tempat kerja.


  1. JIT pada Persediaan
JIT pada persediaan menggunakan sistem tarik (pull system) untuk memindahkan persediaan. JIT akan mengurangi ukuran lot dan mengurangi waktu penyetelan. Perlu juga dikembangkan sistem JIT pada pengiriman dengan pemasok melalui pengiriman langsung kepada titik penggunaan. JIT akan melakukan penjadwalan serta menggunakan grup teknologi.
                                                                                              
  1. JIT pada Penjadwalan
JIT pada penjadwalan dapat ditempuh dengan mengkomunikasikan jadwal tersebut kepada pemasok. Perlu dibuat derajat-derajat penjadwalan. JIT mencari lembaran mana yang dibuat dan lembaran yang dipindahkan. JIT akan menghilangkan pemborosan, memproduksi dalam lot yang kecil, menggunakan Kanban dan membuat masing-masing produksi operasi menjadi bagian yang penting.

  1. JIT pada Pemeliharaan Pencegahan
JIT pada pemeliharaan pencegahan dapat ditempuh dengan pemeliharaan pencegahan yang terjadwal dan rutin harian. Pihak yang melakukan pemeliharaan ini adalah operator. Operator itu harus operator yang mengetahui mesin, agar dalam memeliharanya tidak ada hambatan yang berarti. Pemeliharaan pencegahan ini sangat baik untuk menjaga kualitas produk.

  1. JIT pada Kualitas
JIT pada kualitas adalah diiterapkannya kendali proses secara statistic. Untuk itu, maka pegawai harus diberdayakan, membangun metode-metode yang selamat dari kegagalan (seperti daftar periksa, dan lain-lain) serta menyediakan empan balik yang cepat.

  1. JIT pada Pemberdayaan Karyawan
JIT pada pemberdayaan karyawan adalah dikembangkannya pelatihan-pelatihan. Karena dengan karyawan yang berkembang, maka proses JIT sebenarnya sudah dimulai. Hal ini disebabkan pada prinsipnya, yang mengetahui seluk beluk pekerjaan itu adalah karyawan itu sendiri.


Prinsip kerja JIT
Prinsip kerja JIT dapat dibagi kepada tiga bagian besar yaitu:
   a)          Cost reduction, karena menggunakan prinsip 5S.
   b)          Inventory reduction, karena just in time (yang menggunakan konsep pull system) melawan just in case (yang menggunakan konsep push sistem).
   c)         Quality improvement dimulai dari: Pemberdayaan karyawan kemudian kualitas sebagai paradigma baru setiap orang dan akhirnya pada gugus kendali mutu.

   COST REDUCTION (Pengurangan biaya)
               Suatu konsep manajemen baru yang diambil dari kebiasaan di Jepang dan mampu    menyingkirkan paradigma barat dunia industri manufaktur adalah prinsip 5-S:
Ø  SEIRI-Pemilahan. Diartikan sebagai usaha untuk memilih mana yang perlu dan mana yang tidak serta menghindari berbagai kelebihan.
Ø  SEITON-Pengaturan. Barang atau peralatan diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam pemakaian dan pencarian.
Ø  SEISO-Pembersihan. Peralatan dijaga agar selalu dalam keadaan bersih agar mudah dirawatdan dan selalu dalam kondisi bagus pada saat digunakan.
Ø  SEIKETSU-pemeliharaan kebersihan lingkungan. Untuk menjaga kebersihan lingkungan diperlukan prosedur standatd sehingga setiaap orang akan berperilaku sama dalam perawatan kebersihan.
Ø  SHITSUKE-Pelatihan dan disiplin. Untuk menjaga prosedur standard dan kelangsungannya maka pelatihan untuk mengubah dan menjaga perilaku induvidu perlu dilakukan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar